Kisah Menarik Dibalik Pernikahan Putri Ayako Dan Rakyat Jelata

Cinta memang bisa membutakan mata. Hal ini pula yang terjadi pada Putri Ayako. Putri ketiga dari Pangeran Takmodo dari kekaisaran Jepang ini telah memutuskan untuk meninggalkan gelarnya sebagai putri kerajaan demi menikah dengan seorang rakyat jelata yang bernama Kei Moriya. Kei Moriya adalah seorang karyawan pada perusahaan kapal di Jepang. Kisah cinta yang melibatkan keduanya memang cukup menarik untuk disimak.

Dikenalkan Oleh Ibunda Putri Ayako

Siapa yang menyangka jika pernikahan yang terjadi antara Putri Ayako dan rakyat jelata diawali dengan perkenalan dan persahabatan yang terjalin selama 40 tahun antara ibunda Putri Ayako dan ayahanda Kei Moriya. Ibunda Putri Ayako dan ayahanda Kei Moriya adalah kawan saat mereka sama-sama menjalani pendidikan tinggi di Inggris. Sang ibunda Putri Ayako juga telah mengenal Kei Moriya sebelumnya dan ingin agar putrinya bisa mengenal sosok pria yang aktif dalam kegiatan sosial untuk membuak peluang bagi setiap anak untuk mendapatkan pendidikan yang tinggi.  Ternyata dari perkenalannya tersebut, tumbuh benih-benih cinta antara Putri Ayako dan Kei Moriya.

Meninggalkan Status Putri

Putri Ayako memang telah benar-benar jatuh cinta pada pria yang bukan berasal dari keluarga kerajaan tersebut. berdasarkan informasi dari pihak kerajaan bahwa antara Putri Ayako dan Kei Moriya, keduanya memiliki banyak hobi yang sama, seperti aktif dalam kegiatan sosial, hobi mengoleksi buku, bermain ski, dan juga mengunjungi berbagai tempat. Beberapa kesamaan hobi inilah yang membuat mereka saling jatuh cinta dan memutuskan untuk hidup bersama.

Berdasarkan aturan Kerajaan Jepang, bahwa seorang putri yang menikah dengan pria yang berasal dari rakyat jelata maka harus rela meninggalkan status kekaisarannya. Oleh karena itu, setelah Putri Ayako resmi mengucapkan janji pernikahan dengan Kei Moriya yang seorang rakyat jelata, maka dia juga resmi menanggalkan statusnya sebagai seorang putri. Namun, sang putri akan mendapatkan kompensasi dari pihak kerajaan Jepang yaitu sebesar 1 juta dollar Amerika.

Mengurangi Jumlah Anggota Keluarga Kaisar Jepang

Dengan pelepasan status seorang putri oleh Putri Ayako. Maka hal ini mengurangi jumlah anggota keluarga kekaisaran Jepang. Hal ini juga tentunya akan disusul oleh Putri Mako yang merupakan sepupu dari Putri Ayako yang juga akan menikahi seorang pria yang bukan berasal dari keluarga kerajaan. Dengan terlepasnya status putri dari Putri Ayako, maka tugas yang diemban oleh anggota kekaisaran Jepang yang kini tinggal 17 orang ini akan semakin berat. Oleh sebab itu, ada beberapa usulan yang menyatakan bahwa keturunan mantan putri Jepang dapat diberi kesempatan untuk menjalankan tugas-tugas kerajaan.

Pernikahan Putri Mako

Putri Mako yang merupakan anak dari Pangeran Akhisino ini juga berencana akan menikahi kekasih hatinya yang ia kenal sejak duduk di bangku kuliah yaitu Kei Komuro. Mereka yang telah mengumumkan pertunangan sejak awal tahun 2018 ini, baru akan melangsungkan pernikahan pada tahun 2019.

Meskipun rencana pernikahan yang mereka umumkan sangat membuat rakyat Jepang gembira, namun tentunya anggota kekaisaran Jepang akan kehilangan satu lagi anggota keluarganya. Pada saat ini terdapat 6 putri kerajaan yang masih lajang dan akan kehilangan status putri apabila mereka juga menikahi rakyat jelata. Untuk mendapatkan pasangan yang berasal dari keluarga kerajaan memang lebih sulit pada saat ini. Sebab, anggota keluarga kerajaan sudah semakin berkurang dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, banyak usulan yang menyatakan agar anggota kerajaan yang menikah dengan rakyat jelata tetap memiliki gelar kerajaan.

Selain di Jepang, di Indonesia juga mengenal tentang status keluarga kerajaan yaitu pada kesultanan Yogyakarta. Sri Sultan Hamengkubuwono X memiliki lima orang putri. Hal ini membuat pertanyaan publik tentang bagaimana pewarisan tahta kerajaan selanjutnya. Kelangsungan tahta kerajaan memang harus tetap dipertahankan. Namun, seiring dengan perkembangan jaman dan perkembangan teknologi, maka gaya hidup kerajaan juga banyak mendapatkan pengaruh dari luar. Oleh karena itu, banyak terdapat usulan dari pihak luar untuk adanya perubahan agar anggota keluarga kerajaan tidak semakin berkurang. Namun, semua itu kembali lagi pada kebijakan sang pemimpin kerajaan.